Mobil Jalan Raya Mengungguli Mobil Balap: Mengapa Ford Mustang GTD Dilarang Balapan

16

Selama beberapa dekade, dunia otomotif beroperasi dengan hierarki yang jelas: mobil balap menetapkan standar, dan mobil jalan raya selalu merupakan versi yang sedikit lebih encer. Saat ini, dinamika tersebut berbalik. Mesin-mesin modern yang legal di jalan raya seperti Ford Mustang GTD dan Porsche 911 GT3 RS tidak lagi sekadar terinspirasi oleh balap—mereka sering kali mengungguli performa mesin-mesin yang hanya ada di trek balap.

Pergeseran ini bukan tentang membuat mobil lebih lambat; ini tentang teknologi yang berkembang begitu pesat sehingga mobil jalan raya kini mendapat manfaat dari inovasi yang dibatasi di banyak seri balap. Mustang GTD menggambarkan hal ini dengan sempurna, mencapai waktu putaran Nürburgring 6 menit dan 52,07 detik—lebih cepat dibandingkan beberapa hypercar. Meskipun kondisi lintasan penting, fakta bahwa Mustang dapat bersaing di level ini menyoroti perubahan tersebut.

Tepi Ilegal: Aerodinamika Aktif

Keunggulan kinerja GTD berasal dari teknologi terlarang. Salah satu contoh utamanya adalah sayap belakang yang digerakkan secara hidraulik dengan sistem pengurangan hambatan (DRS) yang mirip dengan Formula 1. Sayap ini secara dinamis menyesuaikan diri untuk memaksimalkan gaya tekan ke bawah di tikungan sekaligus meminimalkan hambatan di jalan lurus, sehingga menghasilkan beban hingga 1.950 pon. Porsche 911 GT3 RS menggunakan sistem serupa.

Namun peraturan FIA GT3 mengamanatkan permukaan aerodinamis statis. Begitu mobil memasuki lintasan, sudut sayapnya harus tetap. Untuk menyesuaikan downforce, tim harus melakukan pit stop dan mengkonfigurasi ulang sayap secara manual. Aturan ini ada karena dua alasan: untuk mengendalikan biaya (membuat aero dinamis terlalu mahal untuk tim yang lebih kecil) dan untuk mencegah masalah “udara kotor”, di mana downforce yang berlebihan menciptakan turbulensi yang berbahaya bagi mobil yang mengikuti.

Larangan Suspensi dan Output Mesin

GTD juga dilengkapi suspensi Adaptive Spool Valve, yang menurunkan mobil sebesar 40 milimeter dalam Mode Track, meningkatkan efek dan stabilitas di permukaan tanah. Suspensi aktif ini dilarang di banyak seri balap, termasuk GT3, karena alasan keselamatan. F1 melarang sistem serupa pada tahun 1994 setelah mobil menjadi sangat tidak stabil. FIA menganggapnya sebagai bantuan pengemudi yang melemahkan keterampilan balap.

Output mesin adalah perbedaan penting lainnya. Mesin V8 5.2 liter supercharged GTD menghasilkan lebih dari 800 tenaga kuda, sedangkan pembalap GT3 dibatasi hingga sekitar 500 hp karena peraturan Balance of Performance (BoP). BoP memastikan balapan yang kompetitif dengan menyamakan kedudukan—pembatas udara dan penyesuaian bobot digunakan untuk mencegah satu pabrikan mendominasi. Namun, mobil jalan raya tidak memiliki batasan seperti itu.

Mengapa Produsen Repot?

Berinvestasi pada teknologi terlarang untuk mobil jalan raya tampaknya berlawanan dengan intuisi, namun ada strategi yang jelas di baliknya. Produsen ingin pelanggan merasa seperti pembalap tanpa perlu pelatihan bertahun-tahun. Teknologi dibandingkan bakat adalah nilai jualnya. Selain itu, mobil jalan raya—dengan bobot tambahan dan kenyamanan seperti peredam suara—membutuhkan segala keuntungan yang bisa didapat.

Terakhir, perlombaan waktu putaran Nürburgring adalah alat pemasaran yang ampuh. Pemecahan rekor Mustang GTD menghasilkan publisitas dan memperkuat citra kinerja merek. Di dunia mobil legal jalanan, tidak ada aturan.

Pergeseran ke arah mobil jalan raya yang mengungguli mobil balap tidak bisa dihindari. Produsen akan terus mendobrak batasan, bahkan jika itu berarti menciptakan mesin yang ilegal untuk digunakan dalam olahraga yang menginspirasi mereka.