Volkswagen sedang bersiap untuk mengganti nama crossover listrik ID.4 yang populer menjadi ID. Tiguan, menyelaraskan dengan strategi yang lebih luas untuk memperkenalkan kembali nama model tradisional untuk jajaran kendaraan listriknya. Keputusan ini, diungkapkan oleh serikat pekerja Jerman IG Metall, muncul setelah produsen mobil tersebut mengumumkan pada bulan September untuk beralih menggunakan nama yang sudah mapan seperti ID. Polo untuk kendaraan listrik masa depan.
Mengapa Harus Berubah?
Langkah ini mencerminkan tren industri yang sedang berkembang: produsen mobil menyadari bahwa nama-nama familiar membangun kepercayaan dan pengakuan lebih cepat dibandingkan merek baru. CEO Volkswagen Thomas Schäfer menyatakan tahun lalu bahwa perusahaannya ingin “memindahkan nama-nama terkenal kami ke masa depan.” Dengan menghubungkan ID.4 ke Tiguan—model lama dan dihormati—Volkswagen bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kendaraan listrik dan mengurangi kebingungan konsumen.
Pergeseran Seluruh Industri
Volkswagen tidak sendirian dalam upaya rebranding ini. Mercedes-Benz menambahkan “Teknologi EQ” ke model listriknya, sementara Audi menghapus sistem penomoran ganjil genap untuk menyatukan sebutan kendaraan listrik dan mesin pembakaran. Toyota baru-baru ini menyederhanakan nama crossover listriknya dari bZ4X menjadi bZ, tak lama setelah menghentikan label “Prime” untuk hibrida plug-in.
Perubahan ini menggarisbawahi kesadaran bahwa branding yang terfragmentasi dapat menghambat adopsi kendaraan listrik. Konsumen merespons lebih baik terhadap nama-nama yang mereka kenal, terutama di pasar di mana banyak orang masih ragu untuk beralih ke kendaraan listrik.
Apa yang Diharapkan
ID. Nama Tiguan diperkirakan bertepatan dengan penyegaran besar-besaran pada SUV listrik tersebut, yang akan dirilis akhir tahun ini. Volkswagen berencana untuk terus memproduksi model tersebut hingga tahun 2031, menunjukkan bahwa perubahan nama bukanlah tindakan sementara melainkan strategi branding jangka panjang.
Peralihan ke nama-nama yang familiar merupakan langkah pragmatis, memanfaatkan ekuitas merek yang ada untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Dengan menjembatani kesenjangan antara model pembakaran tradisional dan model listrik, Volkswagen bertujuan untuk membuat kendaraan listrik lebih mudah diakses dan menarik khalayak yang lebih luas.























